Di tengah gempuran industri fesyen cepat yang serba instan, Thresia Mareta justru memilih jalan yang berbeda. Pendiri brand LAKON ini percaya bahwa melestarikan warisan budaya, terutama batik dan keterampilan menjahit, tidak cukup dengan sekadar menyimpan kain atau produk jadi. Yang jauh lebih penting adalah menjaga 'tangan' para perajin tetap terampil dan sejahtera.

Menurut Thresia, masalah regenerasi perajin tradisional seringkali bukan karena anak muda tidak mau belajar, melainkan karena profesi tersebut dianggap tidak memberikan masa depan yang layak. Banyak orang tua perajin justru mendorong anak-anaknya untuk bekerja di pabrik dengan penghasilan yang lebih pasti. Kondisi ini membuat keterampilan tradisional perlahan punah.

Berangkat dari keprihatinan itu, Thresia membangun Teras LAKON, sebuah ruang yang ia sebut sebagai 'lab'. Di sana, pengetahuan dan keterampilan karya tradisional Indonesia diarsipkan, dipelajari, lalu diekstraksi untuk diajarkan kembali kepada para perajin. Hasilnya kemudian diproduksi oleh brand LAKON dan dijual di LAKON Store. Dengan begitu, para perajin bukan hanya bagian dari rantai produksi, tetapi juga bagian dari ekosistem yang menghargai karya mereka.

Thresia menekankan bahwa ketika perajin mampu menghasilkan karya dan mendapatkan penghasilan yang lebih baik, muncul rasa bangga yang mengubah cara pandang mereka terhadap pekerjaan. "Rasa bangga itu perlahan mengubah cara pandang mereka," ujarnya. Inilah yang menjadi kunci keberlanjutan keterampilan tradisional.

Dedikasinya di dunia fesyen dan budaya membawanya meraih penghargaan bergengsi, Knight of the Ordre des Arts et des Lettres dari Kementerian Kebudayaan Prancis pada 2025. Penghargaan ini menjadi pengakuan atas upayanya mempromosikan warisan budaya Indonesia ke tingkat internasional.

Keberlanjutan dari Proses Produksi

Bagi Thresia, konsep sustainability dalam fesyen tidak hanya soal bahan ramah lingkungan, tetapi juga keseluruhan proses produksi. LAKON menerapkan cara pandang ini mulai dari hal sederhana, seperti pemotongan kain yang efisien. Dengan meminimalkan sisa bahan, mereka juga menghemat benang, listrik, dan sumber daya lain yang digunakan dalam produksi.

Sisa produksi pun tidak dianggap sampah. LAKON mengolahnya kembali menjadi produk bernilai ekonomi. Thresia juga mengembangkan layanan recycle and repair, di mana konsumen bisa memperbaiki pakaian lama atau memodifikasinya menjadi model baru. "Jadi memang prosesnya yang penting, bukan hanya soal bahan," tegasnya.

Menurut Thresia, fesyen juga punya ruang untuk berbicara tentang kreativitas dan identitas generasi muda. Sebagai Advisor di JF3 Fashion Festival, ia melihat ruang berkreasi bagi para desainer muda masih perlu terus dikembangkan. JF3 hadir untuk memberikan panggung yang berbeda setiap tahun, sehingga presentasi karya tidak berhenti pada sekadar peragaan busana.

Melalui LAKON dan Teras LAKON, Thresia membuktikan bahwa bisnis fesyen bisa berjalan seiring dengan pemberdayaan masyarakat dan pelestarian budaya. Ia mengajak kita semua untuk melihat fesyen bukan hanya sebagai industri, tetapi juga sebagai ekosistem yang harus dijaga bersama.

Reporter: Hestia Ramadhani